Langsung ke konten utama

Ketika Tes Kesehatan Pelaku 'Seks Gangbang' Ungkap Status Infeksi HIV

Hasil negatif pada tes HIV memiliki beberapa makna (Foto: iStock)

Sebelumnya sempat heboh video porno 'seks gangbang' di Garut yang membuat masyarakat resah. Polisi bergerak dan kini telah menangkap tiga pelaku yang terdiri dari satu orang wanita dan dua pria.

Dalam pengembangan kasus terungkap kalau salah satu pelaku bernama A alias Rayya (31) positif mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV). Pria yang merupakan bos salon ini disebut Kasatreskrim Polres Garut AKP Maradona Armin Mappaseng kondisi infeksinya mulai parah sejak lima bulan lalu.

"Untuk tersangka inisial A dinyatakan positif mengidap HIV," ujar Maradona di Mapolres Garut, Jalan Sudirman, Selasa (20/8/2019).

Infeksi HIV sendiri adalah kondisi yang hingga saat ini masih sulit disembuhkan secara total. Perilaku seks berisiko, termasuk berganti-ganti pasangan seksual, jadi salah satu cara penularannya.

Berkaca dari kasus tersebut tidak ada salahnya bagi kita untuk waspada dan melakukan tes HIV sebelum terlambat. Ahli menyebut masih ada orang yang enggan tes HIV karena alasan takut mengetahui hasil atau percaya diri karena merasa tidak berisiko dan dalam kondisi sehat.

Kenyataannya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia memperkirakan ada 630 ribu orang dengan HIV-AIDS (ODHA) di 2018. Dari jumlah tersebut, hanya 48 persen yang mengetahui statusnya.

Kepala Sub Direktorat HIV AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) Kemenkes Endang Budi Hastuti menyebut di Indonesia tes HIV dan obat antiretroviral (ARV) bisa diakses gratis di fasilitas kesehatan termasuk puskesmas.

"Tes HIV AIDS bisa diperoleh gratis di 5.000 fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Sekitar 3.000 adalah puskesmas yang aksesnya lebih dekat dengan masyarakat," kata Endang pada perayaan hari Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) Sedunia Desember lalu.

Tes HIV sendiri tidak lebih rumit dari tes darah pada umumnya, bahkan cuma perlu waktu sekitar 10 menit untuk tahu hasil. Dibutuhkan tidak lebih dari 1 cc darah untuk diteteskan bersama reagen tertentu.

Jika hasilnya positif bisa langsung berobat, sedangkan jika negatif maka dianjurkan untuk periksa lagi 3 bulan kemudian untuk mengantisipasi kemungkinan virus belum terdeteksi selama periode jendela.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terkadang Orang Dewasa Memang Susah di Pahami Ada Saja Tingkahnya

Bagi anak-anak, bermain merupakan salah satu hal yang mengasyikkan. Banyak sekali arena permainan yang bisa dinikmati anak-anak, seperti seluncuran, baby swing, dan banyak permainan lainnya. Namun apa jadinya kalau arena bermain tersebut dilmainkan oleh orang dewasa? Tentu akan timbulkan banyak masalah, seperti terjebak pada arena permainan karena ukuran tubuh dan arena tidak sebanding. Hal itu benar adanya karena hingga sekarang masih banyak orang dewasa yang bermain di arena anak-anak. Mungkin saja para orang dewasa ingin nostagia, namun hal itu malah timbulkan masalah. Berikut potret orang dewasa yang justru terjebak di arena bermain anak-anak seperti di lansir dari Boredpanda, Senin (27/5/2019). 1. Terjebak di seluncuran Seluncuran menjadi permainan yang begitu menarik bagi anak-anak. Sensasi saat berseluncur menjadi alasan mengapa permainan ini seru. Namun jangan sesekali mencoba permainan tersebut ketika sudah dewasa seperti ...

Yuk di Simak 5 Fakta Unik Mobil Dari yang Ada 30Ribu Bagian Mobil Hingga Kapan Pertama Kali Tabrakan Mobli Terjadi

Pengetahuan soal  mobil  tidak melulu berkaitan dengan teknis. Hal-hal menarik seperti  fakta unik , malah sering jadi bahasan menarik. Seperti 5 Fakta unik tentang mobil, yang bikin kamut terlihat cerdas ini. 1. Parkir Mobil Seperti dilansir  CarBuzz , 95 persen kehidupan mobil adalah di tempat parkir, lho. Meskipun kita sering terjebak di tengah kemacetan, mobil lebih banyak menghabiskan waktunya dengan terparkir. 2. Penemu Cruise Control Ternyata Tunanetra Faktanya, penemu fitur cruise control yang jamak ditemui di mobil-mobil keluaran terbaru, adalah seorang tunanetra bernama Ralph Teetor. Pria asal Amerika Serikat itu mengalami tunanetra sejak usia 5 tahun. Penemuan Ralph bermula ketika ia sedang bepergian bersama pengacara pribadinya. Lulusan teknik mesin di University of Pennsylvania ini merasa terganggu ketika mobil berjalan dalam kecepatan yang tidak stabil, dan dari situlah ia menciptakan perangkat kontrol kecepatan yang ktia kenal dengan ...

Benarkah Sering Konsumsi Cabe Bubuk Menyebabkan Difteri?

Belakangan ini beredar pesan berantai yang mengingatkan bahwa mengonsumsi cabe bubuk yang kerap digunakan dalam jajanan seperti tahu crispy, kentang goreng, atau cilok bisa menyebabkan difteri akibat tercemar kencing tikus . Bahkan disebutkan difteri jadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di Jakarta dengan korban ratusan jiwa. Dalam akun instagram resmi Dinas Kesehatan DKI telah ditegaskan bahwa berita tersebut adalah hoaks. Pihak Dinkes DKI meminta jika ada yang menerima informasi tersebut, sudah dipastikan hoaks dan tidak berasal dari Dinkes DKI. Senada dengan Dinkes DKI, ahli pencernaan dan dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB menyebut berita KLB tersebut hoaks. "Tentang KLB Difteri hoaks. Berita cabe kering kena kotoran tikus juga Hoaks," kata dr Ari. Dr Ari juga menegaskan bahwa konsumsi cabe bubuk tidak akan menyebabkan difteri. Namun jika terlalu sering mengonsumsinya maka bisa menyebabkan diare pada orang yan...