Langsung ke konten utama

Yang Percaya Pubertas Kedua, Nyatakah Itu?

Kali ini kita bakal ngebahas masalah pubertas ya teman-teman, Shelly tidak tahu apakah para pembaca setia para remaja atau orang dewasa, tapi ini wajib loh dibaca agar paham. Benarkah pubertas kedua itu ada? Curhat ke sahabat, suami melirik perempuan lain dengan tenang yang lain menjawab bersabar lah itu pubertas kedua. Lah apa iya pubertas kedua ada? Yuk mari kita baca rinciannya.

Pubertas kedua seringkali menjadi bahan obrolan di kalangan orang dewasa, terutama di usia 40-an tahun. Obrolan seperti merasa lebih muda maupun hasrat jatuh cinta yang bergemuruh pada pasangan layaknya anak muda.

Dari segi medis, apakah ada pubertas kedua? Dokter spesialis anak Aditya Suryansyah yang fokus membahas pubertas menjawabnya.

"Itu hanya pembicaraan ringan saja. Tidak ada namanya pubertas kedua pada orangtua (orang dewasa). Seiring usia, hormon estrogen maupun testosteron menurun. Ya, ada kalanya merasa seperti penampilan anak muda. Perasaan saja itu," ujar Aditya dalam Live Streaming Radio Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

Pubertas merupakana proses transisi anak menjadi dewasa yang ditandai perubahan fisik dan psikologis. Dalam proses ini terjadi pematanagan organ reproduksi. Pada umumnya, anak perempuan mulai pubertas usia 8-13 tahun, sedangkan anak laki-laki pada usia  9-14 tahun.

"Tanda awal pubertas pada anak perempuan berupa payudara membesar. Kalau anak laki-laki buah zakarnya membesar. Percepatan pertumbuhan tinggi badan juga terjadi. Biasanya anak perempuan langsung cepat tingginya dibanding anak laki-laki. Jadi, kelihatan lebih bongsor," lanjut Aditya, yang berpraktik di RS Anak dan Bunda Harapan Kita, Jakarta.

Hasil gambar untuk ilustrasi pubertas kedua

Konsultan ginekolog Anna Targonskaya menerangkan, istilah pubertas kedua berupa perubahan kondisi tubuh sesuai usia. Jadi, pubertas kedua adalah nyata terjadi.

"Tubuh Anda mengalami perubahan besar selama usia 40-an dan awal 50-an tahun. Anda akan mulai menopause. Seiring bertambahnya usia, Anda mungkin juga mengalami penambahan berat badan dan nyeri sendi dan otot. Semua itu merupakan tanda-tanda pubertas kedua di usia 40-an," jelasnya, dilansir dari Flo.

Pada usia 40-an, Anda akan mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur. Ini terjadi ketika Anda mendekati menopause. Kadar estrogen yang berkurang menurunkan jumlah kalsium dalam tulang sehingga rentan osteoporosis.

"Dorongan seks juga lebih rendah: Kadar hormon Anda mulai menurun. Penurunan gairah seks dan kekeringan pada vagina juga terjadi," Anna melanjutkan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terkadang Orang Dewasa Memang Susah di Pahami Ada Saja Tingkahnya

Bagi anak-anak, bermain merupakan salah satu hal yang mengasyikkan. Banyak sekali arena permainan yang bisa dinikmati anak-anak, seperti seluncuran, baby swing, dan banyak permainan lainnya. Namun apa jadinya kalau arena bermain tersebut dilmainkan oleh orang dewasa? Tentu akan timbulkan banyak masalah, seperti terjebak pada arena permainan karena ukuran tubuh dan arena tidak sebanding. Hal itu benar adanya karena hingga sekarang masih banyak orang dewasa yang bermain di arena anak-anak. Mungkin saja para orang dewasa ingin nostagia, namun hal itu malah timbulkan masalah. Berikut potret orang dewasa yang justru terjebak di arena bermain anak-anak seperti di lansir dari Boredpanda, Senin (27/5/2019). 1. Terjebak di seluncuran Seluncuran menjadi permainan yang begitu menarik bagi anak-anak. Sensasi saat berseluncur menjadi alasan mengapa permainan ini seru. Namun jangan sesekali mencoba permainan tersebut ketika sudah dewasa seperti ...

Yuk di Simak 5 Fakta Unik Mobil Dari yang Ada 30Ribu Bagian Mobil Hingga Kapan Pertama Kali Tabrakan Mobli Terjadi

Pengetahuan soal  mobil  tidak melulu berkaitan dengan teknis. Hal-hal menarik seperti  fakta unik , malah sering jadi bahasan menarik. Seperti 5 Fakta unik tentang mobil, yang bikin kamut terlihat cerdas ini. 1. Parkir Mobil Seperti dilansir  CarBuzz , 95 persen kehidupan mobil adalah di tempat parkir, lho. Meskipun kita sering terjebak di tengah kemacetan, mobil lebih banyak menghabiskan waktunya dengan terparkir. 2. Penemu Cruise Control Ternyata Tunanetra Faktanya, penemu fitur cruise control yang jamak ditemui di mobil-mobil keluaran terbaru, adalah seorang tunanetra bernama Ralph Teetor. Pria asal Amerika Serikat itu mengalami tunanetra sejak usia 5 tahun. Penemuan Ralph bermula ketika ia sedang bepergian bersama pengacara pribadinya. Lulusan teknik mesin di University of Pennsylvania ini merasa terganggu ketika mobil berjalan dalam kecepatan yang tidak stabil, dan dari situlah ia menciptakan perangkat kontrol kecepatan yang ktia kenal dengan ...

Benarkah Sering Konsumsi Cabe Bubuk Menyebabkan Difteri?

Belakangan ini beredar pesan berantai yang mengingatkan bahwa mengonsumsi cabe bubuk yang kerap digunakan dalam jajanan seperti tahu crispy, kentang goreng, atau cilok bisa menyebabkan difteri akibat tercemar kencing tikus . Bahkan disebutkan difteri jadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di Jakarta dengan korban ratusan jiwa. Dalam akun instagram resmi Dinas Kesehatan DKI telah ditegaskan bahwa berita tersebut adalah hoaks. Pihak Dinkes DKI meminta jika ada yang menerima informasi tersebut, sudah dipastikan hoaks dan tidak berasal dari Dinkes DKI. Senada dengan Dinkes DKI, ahli pencernaan dan dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB menyebut berita KLB tersebut hoaks. "Tentang KLB Difteri hoaks. Berita cabe kering kena kotoran tikus juga Hoaks," kata dr Ari. Dr Ari juga menegaskan bahwa konsumsi cabe bubuk tidak akan menyebabkan difteri. Namun jika terlalu sering mengonsumsinya maka bisa menyebabkan diare pada orang yan...