Langsung ke konten utama

Paru-Paru Kolaps Karena Akupuntur

Seorang ahli akupunktur Selandia Baru secara tidak sengaja menusuk paru pasien ketika memasukkan jarum akupunktur. Hal tersebut menyebabkan organ paru pasien terganggu.

Pasien berusia 33 tahun ini pergi ke klinik akupunktur pada Maret lalu. Dia mengalami cedera lengan dan pergelangan tangan yang menyebabkan rasa sakit pada pundaknya.

Setelah mendengar keluhan pasien, ahli akupunktur tersebut memasukkan dua jarum dengan teknik Jian Jing atau Gallbladder 21 (GB21), yang titiknya terletak di dekat bagian atas bahu.

Ketika jarum dimasukkan, pasien merasakan nyeri dan tusukan yang sangat dalam.Ahli akupuntur yang bersangkutan membiarkan jarum selama 30 menit sebelum melepaskannya. Tiba-tiba pasien merasakan nyeri pada sebelah kanan dada dan sesak napas.

Pasien juga mengatakan bahwa ia merasakan sensasi 'pengap' 10 menit kemudian. Ahli akupunktur mengangkat semua jarum yang tersisa dan memberikan perawatan tambahan.

Setelah efek tidak nyaman yang ditimbulkan, pasien pulang dengan instruksi untuk beristirahat dan memperhatikan pernapasan.

Hasil gambar untuk ilustrasi akupunktur

Sesampai di Rumah

Pasien merasakan nyeri yang tak kunjung hilang di sisi sebelah kiri dadanya dan mati rasa di sisi kanan. Akhirnya sang pasien didiagnosis dengan pneumotoraks, yang artinya kedua paru mengalami kerusakan.

Pneumotoraks tersebut disebabkan saat jarum akupunktur masuk membuat gas dilepaskan ke rongga dadanya. Meskipun jarang terjadi, ahli akupunktur terkadang menembus paru pasien karena menggunakan teknik Jian Jing.

Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2010, sekitar 30 persen kasus pneumotoraks disebabkan oleh akupunktur yang menyisipkan jarum ke tempat tertentu.

Dalam kasus pada laporan ini, ahli akupunturs seharusnya menjabarkan risiko pada pasien sebelum jarum dimasukkan pada kulit mereka. Tetapi, ahli akupuntur di sini gagal melakukannya.

Pasien juga tidak menandatangani formulir persetujuan yang diperlukan untuk melakukan pengobatan akupunktur ini.

"Seharusnya ahli akupunktur menerima pelatihan tambahan dan pemerintah mengecek apakah pasien telah menerima informasi dan menandatangani formulir persetujuan sebelum tindakan," tuturnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terkadang Orang Dewasa Memang Susah di Pahami Ada Saja Tingkahnya

Bagi anak-anak, bermain merupakan salah satu hal yang mengasyikkan. Banyak sekali arena permainan yang bisa dinikmati anak-anak, seperti seluncuran, baby swing, dan banyak permainan lainnya. Namun apa jadinya kalau arena bermain tersebut dilmainkan oleh orang dewasa? Tentu akan timbulkan banyak masalah, seperti terjebak pada arena permainan karena ukuran tubuh dan arena tidak sebanding. Hal itu benar adanya karena hingga sekarang masih banyak orang dewasa yang bermain di arena anak-anak. Mungkin saja para orang dewasa ingin nostagia, namun hal itu malah timbulkan masalah. Berikut potret orang dewasa yang justru terjebak di arena bermain anak-anak seperti di lansir dari Boredpanda, Senin (27/5/2019). 1. Terjebak di seluncuran Seluncuran menjadi permainan yang begitu menarik bagi anak-anak. Sensasi saat berseluncur menjadi alasan mengapa permainan ini seru. Namun jangan sesekali mencoba permainan tersebut ketika sudah dewasa seperti ...

Yuk di Simak 5 Fakta Unik Mobil Dari yang Ada 30Ribu Bagian Mobil Hingga Kapan Pertama Kali Tabrakan Mobli Terjadi

Pengetahuan soal  mobil  tidak melulu berkaitan dengan teknis. Hal-hal menarik seperti  fakta unik , malah sering jadi bahasan menarik. Seperti 5 Fakta unik tentang mobil, yang bikin kamut terlihat cerdas ini. 1. Parkir Mobil Seperti dilansir  CarBuzz , 95 persen kehidupan mobil adalah di tempat parkir, lho. Meskipun kita sering terjebak di tengah kemacetan, mobil lebih banyak menghabiskan waktunya dengan terparkir. 2. Penemu Cruise Control Ternyata Tunanetra Faktanya, penemu fitur cruise control yang jamak ditemui di mobil-mobil keluaran terbaru, adalah seorang tunanetra bernama Ralph Teetor. Pria asal Amerika Serikat itu mengalami tunanetra sejak usia 5 tahun. Penemuan Ralph bermula ketika ia sedang bepergian bersama pengacara pribadinya. Lulusan teknik mesin di University of Pennsylvania ini merasa terganggu ketika mobil berjalan dalam kecepatan yang tidak stabil, dan dari situlah ia menciptakan perangkat kontrol kecepatan yang ktia kenal dengan ...

Benarkah Sering Konsumsi Cabe Bubuk Menyebabkan Difteri?

Belakangan ini beredar pesan berantai yang mengingatkan bahwa mengonsumsi cabe bubuk yang kerap digunakan dalam jajanan seperti tahu crispy, kentang goreng, atau cilok bisa menyebabkan difteri akibat tercemar kencing tikus . Bahkan disebutkan difteri jadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di Jakarta dengan korban ratusan jiwa. Dalam akun instagram resmi Dinas Kesehatan DKI telah ditegaskan bahwa berita tersebut adalah hoaks. Pihak Dinkes DKI meminta jika ada yang menerima informasi tersebut, sudah dipastikan hoaks dan tidak berasal dari Dinkes DKI. Senada dengan Dinkes DKI, ahli pencernaan dan dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB menyebut berita KLB tersebut hoaks. "Tentang KLB Difteri hoaks. Berita cabe kering kena kotoran tikus juga Hoaks," kata dr Ari. Dr Ari juga menegaskan bahwa konsumsi cabe bubuk tidak akan menyebabkan difteri. Namun jika terlalu sering mengonsumsinya maka bisa menyebabkan diare pada orang yan...